Fenomena UGC-Driven Virality: Belajar dari Kasus Viral “Tuku Tumbler” 2025

Awal bulan ini, publik Indonesia ramai membicarakan fenomena viral yang awalnya tampak sederhana, yakni kasus “Tuku tumbler”. Cerita tersebut bermula dari unggahan seorang komuter yang kehilangan botol minum di kereta. Tanpa promosi, tanpa strategi seeding, dan tanpa dorongan influencer, percakapan ini justru berkembang dengan cepat. Dalam hitungan hari, narasinya berubah menjadi drama budaya yang menyedot perhatian ribuan pengguna media sosial. 

Menariknya, nama Tuku, sebuah brand yang sudah dikenal luas, ikut terseret dalam diskursus publik, meski tidak terlibat secara langsung. Tidak ada produk yang dipromosikan maupun kampanye yang diluncurkan, namun publik terlanjur mengaitkan simbol “tumbler” dengan Tuku. 

Fenomena ini menegaskan wajah baru UGC virality, yang bergerak cepat, tidak terduga, dan sering kali berada di luar kendali brand di era komunikasi digital 2025.

Kenapa UGC-Driven Virality Terjadi?

Fenomena UGC-driven virality tidak muncul secara tiba-tiba. Di balik sebuah konten yang meledak, terdapat pola perilaku publik dan cara kerja algoritma media sosial yang saling mendorong. Memahami pola ini membantu brand melihat viral secara lebih jernih, bukan sekadar sebagai peluang atau ancaman sesaat.

Narrative Snowballing

Konten sederhana dapat menjadi viral ketika menyentuh emosi banyak orang, seperti empati, kehilangan, atau konflik. Pada kasus Tuku, cerita kehilangan tumbler menjadi pemicu awal yang kemudian berkembang karena publik menambahkan opini dan interpretasi mereka sendiri. Narasi membesar bukan karena fakta baru, melainkan karena emosi yang terus dibagikan.

Budaya Cepat Membagikan Konten

Di media sosial, banyak orang membagikan konten dengan cepat tanpa berpikir panjang. Tujuannya bukan selalu mencari kebenaran, tetapi ikut terlibat dalam percakapan yang sedang ramai. Akibatnya, satu cerita bisa menyebar luas dalam waktu singkat.

Netizen Senang Mengambil Posisi

Dalam konten viral, publik sering merasa perlu memilih sisi tertentu. Mereka membentuk opini, mendukung atau menentang, lalu menjadikan objek viral sebagai simbol isu yang lebih besar. Pola ini membuat percakapan semakin ramai dan emosional.

Algoritma Mengutamakan Emosi

Platform media sosial cenderung menaikkan konten yang memicu emosi kuat. Konten bernuansa konflik dan drama lebih mudah tersebar dibanding klarifikasi yang tenang dan informatif. Inilah sebabnya pesan brand sering tertinggal di belakang arus emosi publik.

Insight Penting dari Kasus “Tuku Tumbler”

Ada beberapa pelajaran krusial yang bisa dipetik dari kasus ini.

Virality Tidak Bisa Diprediksi

Tidak ada framework atau rumus pasti yang dapat menjamin kapan sebuah cerita akan menjadi viral. Bahkan brand dengan strategi komunikasi yang paling matang sekalipun dapat terseret ke dalam percakapan yang sama sekali tidak mereka rencanakan atau ciptakan.

Brand Bisa Terseret Meski Tidak Terlibat

Dalam konteks UGC-driven virality, persepsi publik sering kali lebih kuat daripada fakta. Brand dapat berubah menjadi simbol dalam percakapan sosial, meskipun tidak berperan sebagai aktor utama dalam peristiwa tersebut.

Attention Tidak Selalu Berujung pada Conversion

Ramainya pembicaraan tidak otomatis menghasilkan dampak bisnis. Pada kasus Tuku, meskipun namanya banyak disebut, sentimen publik cenderung netral dan diskusi lebih fokus pada drama sosial, bukan pada produk, pengalaman pelanggan, atau nilai brand. Awareness memang terbentuk, tetapi tidak langsung mendorong transaksi.

Risiko Brand Justru Meningkat Saat Viral

Viralitas membawa risiko yang tidak kecil. Disinformasi, meme-ification, hingga terbentuknya persepsi yang tidak selaras dengan nilai brand dapat muncul dan menyebar dengan cepat ketika percakapan tidak terkendali.

Narasi Publik Lebih Kuat dari Pesan Brand

Ketika percakapan sudah dikuasai oleh netizen, brand tidak lagi menjadi pusat cerita. Dalam kondisi ini, komunikasi yang terlalu agresif justru berpotensi memperburuk situasi, alih-alih mengembalikan kendali narasi.

Strategi Menghadapi Viral yang Tidak Direncanakan

Dalam situasi brand crisis management, kejelasan sikap dan ketepatan respons jauh lebih penting daripada kecepatan semata, karena tidak semua momen viral menuntut reaksi instan.

  • Biarkan buzz organik berjalan. Tidak semua viral perlu dimanfaatkan, karena aktivasi yang dipaksakan justru berpotensi menggeser sentimen publik ke arah negatif.
  • Lakukan monitoring secara intensif. Pantau mention, sentimen, dan potensi disinformasi secara real-time untuk memahami arah percakapan sebelum mengambil keputusan.
  • Koreksi informasi dengan pendekatan tenang. Klarifikasi hanya dilakukan jika diperlukan, dengan tone profesional dan tidak defensif agar tidak memicu konflik baru.
  • Arahkan percakapan ke value brand. Tetap konsisten pada identitas dan positioning brand tanpa ikut terlibat dalam drama publik yang berkembang.
  • Manfaatkan awareness secara strategis. Gunakan perhatian publik untuk memperkuat brand recall dan loyalitas jangka panjang, bukan sekadar mengejar penjualan sesaat.

Contoh Penerapan dalam Dunia Marketing

Fenomena UGC-driven virality seperti ini tidak hanya dialami oleh Tuku, tetapi juga kerap muncul di berbagai industri lain.

  • Brand F&B sering menjadi viral karena review spontan di TikTok, dan brand yang matang akan mengolah momentum tersebut menjadi storytelling campaign yang membangun kredibilitas, bukan promosi hard-selling.
  • Industri fashion kerap mengalami viralitas akibat “ketidaksengajaan”, seperti produk yang dikenakan figur publik tanpa endorsement, lalu diarahkan ke landing page informatif dengan pendekatan soft branding.
  • Marketplace memanfaatkan cultural moment yang sedang ramai untuk menggali insight targeting dan menyesuaikan tone of voice konten, tanpa perlu mengklaim kepemilikan atas tren tersebut.
  • Pendekatan yang tepat bukan selalu aktivasi besar, melainkan kemampuan membaca situasi dan menentukan kapan harus berbicara serta kapan perlu menjaga jarak.
  • Kasus Tuku menegaskan bahwa tidak setiap buzz perlu dijadikan campaign, karena dalam banyak situasi kehadiran yang tenang, terukur, dan terkendali justru lebih efektif.

Memasuki 2025, cultural-driven virality diprediksi akan semakin sering terjadi seiring percakapan publik yang makin cepat, cair, dan tidak terstruktur. Brand perlu siap dengan sistem sentiment monitoring 24/7 karena krisis reputasi dapat muncul kapan saja tanpa peringatan. Risiko reputasi juga meningkat ketika publik mampu “mengadopsi” brand ke dalam narasi mereka sendiri, sering kali dengan makna yang tidak pernah direncanakan. 

Dibanding creator-driven UGC yang lebih terkelola, public-driven UGC bersifat mentah, emosional, dan berpotensi lebih berisiko. Ke depan, strategi komunikasi digital harus mampu menyeimbangkan kecepatan respons, sensitivitas sosial, dan kedewasaan brand. 

Fenomena viral seperti “Tuku tumbler” menegaskan bahwa ketenangan strategis, didukung manajemen komunikasi yang tepat dari FAS, bukanlah kelemahan, melainkan keunggulan dalam menghadapi dinamika virality modern.

Hubungi Kami di WA: +628041745745. Kunjungi Website FAS dan laman sosial media kami di Instagram & TikTok FAS.