UGC TikTok Semakin Drama: Efektif atau Justru Menghilangkan Esensi Marketing?

Di periode 2024–2025, UGC di TikTok mengalami pergeseran yang cukup tajam dan jujur. Creator semakin sering menghadirkan konten dengan narasi ekstrem seperti dikejar deadline sambil naik motor, nyaris kecelakaan di lampu merah, skenario absurd seperti “komunitas BAB”, hingga storytelling hiperbolik ala “Majapahit Laundry”. Dari sisi hiburan, ini jelas efektif, sejalan dengan tujuan views melonjak, komentar ramai dan algoritma yang tersenyum.

Namun ada satu pertanyaan yang mulai mengganggu banyak brand, di mana produknya?

Jika audiens hanya mengingat dramanya, tapi lupa apa yang dijual, apakah itu masih bisa disebut UGC marketing? Atau justru sudah bergeser menjadi hiburan murni yang kebetulan membawa brand sebagai figuran?

Nah, di sini Anda akan memahami fenomena tersebut secara jujur dan strategis, seperti mengapa UGC semakin drama, apa risikonya bagi brand, dan bagaimana mengembalikan UGC ke esensinya, tanpa harus membunuh engagement.

Kenapa Tren UGC Dramatis Muncul?

Fenomena ini tidak lahir tanpa sebab. Ada beberapa faktor kunci yang mendorong UGC TikTok menjadi semakin teatrikal.

Algoritma TikTok Memprioritaskan Emosi

Konten dengan storytelling ekstrem seperti marah, panik, sedih, hingga absurd, lebih cepat memicu retensi dan interaksi. Algoritma TikTok membaca emosi sebagai sinyal engagement yang kuat, sehingga konten emosional cenderung mendapat distribusi lebih luas. Akibatnya, creator terdorong untuk memainkan emosi terlebih dahulu, sering kali sebelum pesan produk benar-benar hadir.

Creator Berlomba Mencari Hook Instan

Di tengah persaingan konten yang semakin padat, shock factor menjadi jalan pintas untuk “mengunci” perhatian dalam tiga detik pertama. Hook yang mengejutkan dianggap solusi cepat untuk bertahan di feed audiens. Sayangnya, pendekatan ini kerap mengorbankan alur komunikasi produk demi sensasi sesaat.

Audiens Lebih Mudah Mengingat Cerita daripada Pesan Produk

Narasi selalu lebih melekat dibanding spesifikasi atau manfaat teknis. Ketika cerita terlalu dominan, produk berisiko tenggelam di balik plot yang terlalu kuat. Audiens mungkin terhibur, tetapi gagal mengaitkan pengalaman menonton dengan brand atau solusi yang ditawarkan.

Brand Terlalu Fokus Mengejar Viral

Banyak brief UGC hari ini berhenti pada satu target yaitu “yang penting rame.” Relevansi, fungsi produk, dan tujuan funnel sering kali menjadi prioritas kedua. Fokus berlebihan pada viralitas membuat UGC kehilangan arah sebagai alat komunikasi marketing yang strategis.

UGC Bergeser Menjadi Drama-Generated Content

Kombinasi faktor algoritma, kompetisi creator, preferensi audiens, dan tekanan brand menghasilkan pergeseran yang nyata. UGC tidak lagi sepenuhnya berbasis pengalaman pengguna, melainkan dikonstruksi sebagai drama. Engagement memang meningkat, tetapi fungsi marketing yang membangun pemahaman, kepercayaan, dan keputusan justru melemah.

Risiko UGC Drama untuk Brand

UGC dramatis bukan tanpa konsekuensi. Berikut beberapa risiko nyata yang sering tidak disadari brand.

Product Message Lost

Konten bisa viral, tapi tidak ada yang membahas manfaat produk. Reach besar tanpa pesan yang sampai adalah wasted reach. Awareness semu, tanpa pemahaman.

Low Conversion Funnel

Konten dramatis memang menarik penonton, tetapi tidak otomatis mendorong pembelian. Terutama pada TikTok Shop (yellow card funnel), drama tanpa kejelasan manfaat hanya menghasilkan traffic, bukan transaksi.

Trust Tidak Terbangun

UGC seharusnya terasa dekat, jujur, dan realistis. Ketika drama terlalu dibuat-buat, audiens mulai merasakan bahwa konten tersebut staged. Alih-alih percaya, mereka justru menjaga jarak.

Product Recall Rendah

Audiens mungkin ingat ceritanya, dialognya, bahkan punchline-nya, tetapi lupa brand dan produknya. Dalam influencer dan UGC marketing, ini adalah kesalahan strategis yang cukup fatal.

UGC sebagai Alat Pembentuk Kepercayaan Konsumen

UGC lahir dari satu prinsip sederhana “people trust people”bukan karena dramanya, melainkan karena pengalaman nyata, ulasan jujur, penggunaan produk sehari-hari, bukti manfaat yang bisa dirasakan, serta relevansi dengan kehidupan audiens, seperti: 

  • Pengalaman nyata. Konten berangkat dari situasi yang benar-benar dialami creator sehingga terasa autentik dan mudah dipercaya.
  • Ulasan yang jujur. Review disampaikan apa adanya tanpa hiperbola berlebihan, justru memperkuat kredibilitas di mata audiens.
  • Penggunaan produk sehari-hari. Produk ditampilkan dalam rutinitas nyata agar audiens bisa membayangkan relevansinya dalam kehidupan mereka.
  • Bukti manfaat yang bisa dirasakan. Manfaat diperlihatkan secara langsung melalui demo, before–after, atau perubahan yang konkret dan mudah dipahami.
  • Relevansi dengan kehidupan audiens. Cerita selaras dengan kebutuhan dan masalah target market sehingga memicu rasa “ini gue banget.”

Ketika UGC kehilangan elemen ini, konten mungkin tetap viral, tetapi kehilangan nilai utamanya sebagai alat marketing.

Cara Membuat UGC Menarik Tanpa Kehilangan Fokus Produk

Drama tidak harus dihapus, cukup diarahkan. Supaya konten tetap seru tanpa mengaburkan peran produk, yuk lihat cara membuat UGC yang seimbang dan benar-benar berdampak.

Gunakan Drama Secukupnya

Sebagai pembuka, hook boleh dibuat dramatis untuk menarik perhatian. Namun, produk harus kembali muncul dalam 3–5 detik pertama agar penonton tetap ingat alasan mereka menonton sejak awal.

Pastikan Produk Hadir Secara Natural

Setelah perhatian didapat, produk tidak boleh sekadar muncul di akhir sebagai tempelan. Ia perlu menjadi bagian alami dari alur cerita supaya terasa relevan dan tidak memaksa.

Integrasikan Manfaat ke dalam Storyline

Pada tahap ini, cerita yang kuat seharusnya lahir dari fungsi produk. Jika sebuah storyline bisa diganti dengan produk lain tanpa mengubah makna, itu menandakan integrasi produk belum berjalan optimal.

Gunakan POV Sehari-hari

Agar pesan terasa dekat, gunakan situasi nyata yang akrab dengan kehidupan audiens. Pendekatan ini jauh lebih efektif dibanding skenario absurd yang tidak memiliki koneksi dengan masalah mereka.

Prioritaskan Trust Cues

Untuk membangun kepercayaan, elemen seperti before–after, demo singkat, reaksi jujur, atau penjelasan sederhana sering kali lebih meyakinkan daripada drama yang berlapis-lapis.

Optimalkan Yellow Card Funnel

Sebagai penutup alur, manfaat produk harus disampaikan dengan jelas, CTA relevan, dan transisi ke pembelian terasa logis, bukan sekadar formalitas demi melengkapi konten.

Drama berfungsi sebagai pemancing, tetapi keputusan pembelian hanya terjadi ketika produk hadir dengan jelas, relevan, dan dipercaya.

Ke depan, UGC yang benar-benar bertahan bukan yang sekadar heboh, melainkan yang mampu menyeimbangkan hiburan dan fungsi secara strategis. Storytelling tetap engaging, produk hadir jelas dalam narasi, trust terbentuk secara alami, relevansi dengan kebutuhan audiens kuat, dan conversion funnel tetap berjalan. Di titik ini, brand perlu mulai membedakan satu hal krusial: viral content tidak selalu berarti effective UGC.

UGC dramatis memang mampu mencuri perhatian, tetapi perhatian tanpa product recall hanyalah vanity metric. Sebagai mitra strategi, FAS siap membantu brand merancang UGC blueprint yang tetap menarik, tetap relevan, dan tetap menghasilkan penjualan, membuat UGC bekerja bukan hanya untuk algoritma, tetapi juga untuk pertumbuhan bisnis.Hubungi Kami di WA: +628041745745. Kunjungi Website FAS dan laman sosial media kami di Instagram & TikTok FAS.